Pertemuan Brandal Lukojoyo ( Kanjeng Sunan Kalijaga ) dengan Kanjeng Sunan Bonang di Hutan Kalijaga
Siang sebelum masuk Ashar, Kanjeng Sunan Bonang berjalan di tengah alas Kalijaga dengan membawa tongkat dan semacam barang yang di taruh dalam ikatan kain yang diselempangkan di bahunya.
Perawakan Kanjeng Sunan Bonang yang terlihat bersih dengan baju yang menampakkan seorang saudagar membuat Lukojoyo tertarik untuk merampok Kanjeng Sunan Bonang
[ Ketika itu Lukojoyo belum mengetahui bahwa yang menjadi mangsanya adalah Kanjeng Sunan Bonang]
Di hadanglah Kanjeng Sunan Bonang oleh Lukojoyo dan kawan - kawannya, lalu direbutlah tasnya oleh Lukojoyo. Akan tetapi justru Kanjeng Sunan Bonang berkata," Ki sanak, tas itu isinya Qur'an yang tidak ada artinya untuk dirimu, kalau mau ambil, silahkan ambil tongkat ini saja, karena tongkat ini adalah emas murni batangan."
Mendengar penjelasan Kanjeng Sunan Bonang, sang Lukojoyo tergetar hatinya. Hati kecilnya berkata, " AstagfiruLLOH, aku ini sudah banyak dosa, lalu kenapa tega-teganya aku merebut Al-Qur'an dari orang berilmu seperti dia. Dan siapakah Beliau ini kok sangat jujur dan lemah lembut akhlaqnya."
Bahasa hati Lukojoyo terdengar oleh Kanjeng Sunan Bonang, lalu Kanjeng Sunan Bonang berkata kembali, "Kisanak, jangan hanya tongkat itu saja yang engkau rampas, silahkan ambil sandalku dan tasbihku karena semua terbuat dari emas, asal jangan kau ambil kitab yang menjadi penerang hatiku, penuntun jalan hidupku dan pintu sorgaku. Bila tongkat, sendal dan tasbih emas belum cukup bagimu, aku bisa memberimu emas sebanyak yang engkau mau asal jangan Kitab itu."
Semakin bergetarlah tubuh Lukojoyo, Hidayah telah merasuki jiwanya, cahaya Rahmat telah merambat ke pikirannya.
Lalu diberikanlah Qur'an itu kepada Kanjeng Sunan Bonang dan Sang Kanjeng Sunan Bonang berkata (sambil menunjuk pohon aren) : " AlhamduliLLAH, wahai kisanak di pohon aren itu ada kolang kaling emas, ambilah semuanya dan emas emas itu tak akan habis di makan 10 keturunan.Dan aku, cukup dengan Kitab ini saja yang nilainya lebih besar dari apapun yang ada di muka bumi."
Ketika Lukojoyo matanya melihat ke arah aren yang buahnya bergemerlap emas, seketika Lukojoyo meneteskan air mata, lantaran ia teringat pesan ibundanya sebelum pergi meninggalkan rumah "Le Lukojoyo, silahkan pergi sesukamu, ibu tidak kuasa melarangmu, tapi ingat yo Le, suatu hari nanti jika kamu bertemu dengan Guru ibu yang bisa merubah apa pun menjadi emas, maka bertobatlah, jika tidak seperti itu maka kamu akan sengsara dan tersesat selamanya."
Setelah Lukojoyo sadar bahwa yang di hadapannya adlah Guru ibunya ( Kanjeng Sunan Bonang), sontak rapuhlah jiwanya, tubuhnya lemas dan keringat dingin pun keluar dari sekujur tubuhnya
Dengan penuh perasaan dosa dan takut, akhirnya Lukojoyo bersimpuh di hadapan Kanjeng Sunan Bonang, meminta maaf dan bersujud, meminta di angkat murid oleh Kanjeng Sunan Bonang.
Dan di alas Kalijaga tersebut akhirnya Sang perampok Ulung yang di takuti aksinya oleh kerajaan Majapahit dan Pajajaran tunduk di bawah naungan Sayyid Maulana Malik Ibrahim Al Adzomat Khon ( Kanjeng Sunan Bonang ) putra Sunan Ampel.
BERSAMBUNG.....
Sumber: Majelis Faletehan - Sukoharjo

